BAB I
PENDAHULUAN
A. . LATAR
BELAKANG
Penerimaan
pendapatan yang tidak merata di berbagai wilayah di Indonesia merupakan suatu
hal yang harus diperbaiki oleh pemerintah. Hal ini terlihat dari masih
banyaknya kesenjangan social yang ada di masyarakat. Harga kebutuhan sandang
dan pangan yang meningkat juga menambah penderitaan masyarakat
berpendapatan rendah. Oleh karena itu, daya beli masyarakat terhadap
kebutuhan Primer dan sekunder juga makin berkurang. Persaingan
yang terus berkembang membuat perusahaan harus berusaha menempatkan produk
sepatu di benak konsumen. Vans adalah salah satu produk sepatu yang memiliki kualitas dan brand
ternama yang telah melekat pada benak konsumen Buat
pecinta fashion dan skateboard, Vans adalah produk ternama yang berasal
dari amerika serikat yang kini produk vans telah mendunia. Indonesia adalah
salah satu Negara yang menjadi sasaran penjualan produk vans yang
bekerjasama dengan PT. Gagan Indonesia
sebagai satu-satunya distributor vans di Indonesia.
Dari awal kemunculannya sampai sekarang vans memang tidak
pernah ketinggalan trend. Namun pada juni 2017 lalu Vans Indonesia dikabarkan tutup karena kebangkrutan
yang dialami oleh PT Gagan Indonesia. PT
Gagan Indonesia disebut-sebut telah dinyatakan pailit alias bangkrut oleh
Pengadilan Niaga Jakarta Pusat setelah gagal berdamai dengan para krediturnya
dalam proses penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU). Namun tidak lama vans
tutup di Indonesia kini Vans kembali hadir dan membuka dua gerai utama di dua wilayah saja, yaitu
Jakarta dan Surabaya. Untuk cabang Jakarta berada di Mal Grand Indonesia, yang
perdana di buka pada tanggal 21 September 2017 dibawah naungan PT. Navya Ritael
Indonesia sebagai distributor terbaru vans.
B. . RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana pengaruh Brand Image
terhadap niat Pembelian sepatu Vans di Indonesia ?
2. Apa yang menjadi penyebab bangkrutnya distributor Vans Indonesia ?
3. Apa yang menjadi dasar kembalinya Vans di Indonesia ?
C. . TUJUAN PENULISAN
1. Mengetahui Pengaruh Brand Image terhadap niat pembelian sepatu
Vans Indonesia
2. Mengetahui penyebab bangkrutnya distributor Vans Indonesia
3. Menganalisis factor kembalinya Vans di Indonesia
BAB II
PEMBAHASAN
. LANDASAN TEORI
1. Pengertian
Manajemen Ritel
Manajemen
retail adalah pengaturan keseluruhan faktor-faktor yang berpengaruh dalam
perdagangan retail, yaitu perdagangan langsung barang dan jasa kepada konsumen.
Atau lebih
singkatnya Manajemen ritel adalah manajemen yang diterapkan pada ritel. Faktor-faktor
yang berpengaruh dalam bisnis retail adalah place, price, product, dan
promotion yang dikenal sebagai 4P.
2.
Pengelompokan Bisnis Ritel
Ada beberapa klasifikasi bisnis ritel :
a) Kepemilikan (
Owner ):
·
Single-Store
Retailer (tipe yang paling banyak jumlahnya dengan ukuran toko umumnya dibawah
100 m²)
·
Rantai Toko
Retail (toko retail dengan banyak cabang dan dimiliki oleh institusi perseroan)
·
Toko Waralaba
(toko yang dibangun berdasarkan kontrak kerja sama waralaba antara terwaralaba
dengan pewaralaba)
b) Merchandise Category:
· Specialty
Store/ Toko Khas (Menjual satu jenis kategori barang yang relative sedikit/
sempit)
·
Grocery Store/
Toko Serba Ada (menjual barang groceries (sehari-hari))
·
Departement Store
(menjual sebagian besar bukan kebutuhan pokok, fashionable, bermerek, dengan
80% pola konyinyasi)
·
Hyperstore(menjual
barang dalam rentang kategori barang yang sangat luas).
. SEJARAH VANS
Bermula
pada 16 Maret 1966,
di jalan 704E
Broadway, di Anaheim,
California. Paul Van Doren dan tiga
sahabatnya membuka toko pertama mereka
tempat penjualannya atau bisa dikatakan First Store dan disana vans lahir. ketika itu mereka menamakan wearhouse
store mereka Van Doren Rubber Company, dan sangat unik ketika itu karena
mereka langsung memproduksi sepatu
mereka disana dan menjualnya langsung
kepada publik. Pada pagi di hari pertama 12 pelanggan membeli sepatu yang membuat langsung di hari itu juga dan siap untuk
diambil di sore hari. ketika itu nama series
sepatu pertama mereka The Vans #44 deck shoes, yang sekarang dikenal sebagai Authentic. Pada saat itu
Pemain skateboard di Southern California pada awal tahun 1970 hampir semuanya
menyukai dan memakai sepatu Vans. dan pada tahun 1975, Vans # 95 atau yang
sekarang dikenal sebagai Vans Era dirancang oleh Tony Alva dan Stacy Peralta.
Dengan bagian kerah yang empuk dan kombinasi warna yang berbeda Vans Era
menjadi sepatu pilihan bagi generasi pemain skateboard pada masa itu.
Pada tahun 1979, Vans memperkenalkan #44 Shoe atau yang
sekarang dikenal dengan Vans Slip-on, dan dengan bantuan pemain skateboard dan
pengendara BMX, Vans Slip-On menjadi sesuatu yang booming di Southern
California. dan pada akhir tahun 1970-an, Vans ekspansi store mereka dengan
memiliki 70 toko di California dan menjual melalui dealer-dealer sepatu baik
secara nasional maupun internasional. Pada tahun 1980-an, Paul Van Doren
mulai mengambil peran yang lebih kecil dalam kegiatan perusahaannya. Selama
periode ini, Vans mulai membuat sepatu untuk beberapa olahraga seperti
baseball, basketball, wrestling sampai skydiving untuk mencoba bersaing dengan
perusahaan-perusahaan seaptu lainnya. Vans Slip-Ons mendapat perhatian dan daya
tarik internasional ketika mereka dipakai oleh Sean Penn pada 1982, film
ikon anak muda pada kala itu "Fast Times at Ridgemont High" Meskipun
Vans sepatu yang laris manis, berbagai macam polemik yang dihadapi seperti
produk yang diproduksi sangat besar dan menyerap sumberdaya yang besar,
manajemen perusahaan yang kurang baik memaksa Vans Company memiliki hutang yang
besar dan mengalami kebangkrutan pada tahun 1983.
Hanya berselang tiga tahun dari
kebangkrutannya, Vans telah membayar kembali semua kreditur dan keluar dari
kebangkrutannya. dan pada tahun 1988 pemilik asli Vans menjual ke sebuah
perusahaan investasi perbankan, dan dengan dukungan finansial pemilik baru,
Vans memperluas dan meningkatkan eksistensinya di seluruh dunia. Vans mulai
manufaktur sepatu di luar negeri pada tahun 1994, memungkinkan untuk
pengembangan gaya sepatu baru, dan ekspansi besar-besaran mulai dilakukan. vans
mulai merajai action sport industri du Dunia dengan mensponsori inaugural
Triple Crown of skateboarding dengan ivent skateboarding, BMX, surfing,
wakeboarding, snowboarding, motocross and super cross. Vans diakui oleh Forbes pada tahun 2000
dan kemudian tahun 2001 mendapatkan penghargaan serupa sebagai “America’s Best
Small Companies.”. Pada tahun 2001 Vans pembiayaan produksi Film Dogtown and
Z-Boys, Stacy Peralta telibat pada Film itu. film ini menyabet penghargaan
Audience Award dan the Best Director Award pada ajang Sundance Film Festival.
The film is diceritakan oleh Sean Penn. ditahun yang sama Vans membeli
dan membuat ivent the Vans Warped Tour, dan merajai ivent action sports and
music festival Amerika.
Pada tahun 2004 Vans membuat sistem
pembelian Vans Customs di www.vans.com, memungkinkan calon pembeli bisa
merancang sendiri classic slip-ons dengan ratusan warna dan pola yang bisa
dipilih sendiri. Vans kemudian membuat ivent skateboard bowl contest terbaik,
Pro-tec Pool Party 2005 yang berlangsung di the replica of the legendary Combi
Bowl di Vans Skate Park di the Block at Orange. Pada tahun yang sama, Vans
Warped Tour menarik lebih dari 680.000 penggemar punk selama musim panas.
menempatkannya sebagai running konser series terpanjang di Amerika. kemudian
Vans mengadopsi sebuah konsep baru dalam kontes skateboard street dengan Vans
Downtown Showdown, diselenggarakan di Universal Studios pada Hari Buruh. Vans terus berinovasi dan mengembangkan
bisnisnya dan menjadi salah satu Industri yang besar di dunia, dan bisa
dikatakan sejajar dengan Nike, adidas dan industri besar lainnya. dan ini
berawal dari hal kecil dan mimpi yang besar.
. MODEL PRODUK VANS
Ada beberapa model produk vans yakni :
1. Authentic

Ini adalah model sepatu Vans terlaris di dunia dan juga
Indonesia. Karena Authentic ini memang merupakan model paling pertama yang
diproduksi oleh creator Vans. Modelnya yang simpel dengan canvas dan tali
membuat sepatu ini menjadi model sepatu Vans yang paling banyak dicari.
2. SK8-Hi

Model ini memang tenar di kalangan para skateboarders di
Amerika. Didesign khusus untuk memberi kenyamanan kepada para pemain skateboard
dengan ciri unik yakni ukurannya yang tinggi (menutupi mata kaki).
3. Half Cab

Model sepatu Vans yang satu ini agak mirip dengan
SK8-Hi, namun ukurannya tidaklah setinggi SK8-Hi. Sepatu ini juga didesign
khusus untuk memberikan kenyamanan para skateboarders.
4. Old Skool

Salah satu model tertua selain Authentic. Tidak banyak
yang diubah sejak pertama kali ia diciptakan, karena memang Old Skool sengaja
dibiarkan untuk tetap menjaga orisinalitasnya dan memberikan kesan vintage pada
pemakainya.
5. ERA

Jenis ini mirip dengan Authentic. Ia juga merupakan
model sepatu Vans yang cukup laris di seluruh dunia. ERA memiliki
kemiripan dengan model Authentic, namun perbedaanya adalah ia dilengkapi dengan
bantalan busa di sekitar lingkar kaki
6. Slip-On

Modelnya simple dan sangat “manly” Slip-On
sengaja dibuat untuk kalian yang suka dengan sepatu ringkas yang mudah dipakai
karena ia sesuai namanya “slip” tanpa tali sehingga kalian tinggal memasukkan
kaki saja.
BAB III
PENJABARAN DAN ANALISIS KASUS
Penyebab tutupnya vans di Indonesia adalah hadirnya
kabar bahwa PT Gagan indonesia yang menjadi distributor dinyatakan pailit alias
bangkrut. PT Gagan Indonesia, distributor produk fashion multinasional menerima
status pailit atau bangkrut dari Pengadilan Niaga JakartaPusat lantaran menemui
kesepakatan antara pihaknya dengan kreditur mengenai Penundaan Kewajiban
Pembayaran Utang (PKPU). Bangkrutnya
distributor Vans waktu itu adalah karena pemasukan retail mereka nggak cukup
buat menutupi pengeluaran yang diperlukan. Alias, nggak banyak orang yang mau
membeli Vans langsung di store nya. Padahal, merk Vans sendiri sebenarnya cukup
populer di Indonesia. Gagan yang merupakan distributor berbagai merek fashion
seperti Adidas.Bebe,Promod,Ted Baker dan Quiksilver termasuk vans ini isebut
memiliki hutang kepada sekitar 50 kerditur sebanyak Rp 281,41 miliar. Di kutip
dari kontan.co.id, Gagan Indonesia akan membayar hutang-hutangnya
tersebut dengan mengklasifikasikan kreditur menjadi dua, yakni kreditur yang
memiliki tagihan hingga Rp 100 miliar dan kreditur dengan tagihan di atas Rp
100 miliar.Untuk kreditur yang memiliki tagihan hingga Rp 100 miliar akan
dilunasi selama 20 tahun dengan dua graceperiod.Sementara, kreditur dengan tagihan
di atas Rp 100 miliar akan dibayar selama 30 tahun dengan tiga graceperiod.
Adapun pihak yang menjadi kreditur Gagan Indonesia antara
lain RSH Holdings sebesar Rp 201,34 miliar, PT Adidas Indonesia Rp 13,31
miliar, PT Quiksilver Indonesia Rp 7,05 miliar, dan Bank Standrad Chatered
Indonesia sekitar Rp 28 miliar.Menurut para kreditur, tawaran tersebut cukup
lama dan tidak realistis. Gagan dinilai enggan mencari investor baru untuk
melanjutkan usaha dan hanya mengandalkan aset perusahaan.Padahal, total aset
perusahaan diketahui hanya senilai Rp 80,3 miliar, dengan rincian Rp 51,21
miliar berupa barang inventori dan Rp 3,17 miliar berupa piutang.
Kabar Vans pailitnya PT Gagan Indonesia sebagai distributor
membuat merek-merek yang menjadi mitranya dikabarkan akan menutup gerainya di
Indonesia. Tidak lama terdengar bangkrut kini Ada
kabar gembira bagi para pecinta sepatu Vans di Indonesia, sebab toko sepatu
Vans akan kembali buka di Indonesia. Dibawah naungan distributor baru yaitu PT. Navya Retail Indonesia. Vans Indonesia hanya
dibuka di dua wilayah saja, yaitu Jakarta dan Surabaya. Untuk cabang Jakarta
berada di Mal Grand Indonesia, ( Dope and Dappe ) yang perdana di buka pada
tanggal 21 September lalu. Sedangkan untuk cabang Surabaya, Vans Indonesia
akhirnya dibuka kembali tepatnya pada 23
September di Tunjungan Plaza, Surabaya. Gerai
sepatu asal Amerika Serikat itu kembali dibuka di dua gerai lainnya di
Indonesia. Vans Indonesia mengumumkan langkah kembalinya kepada para
penggemarnya. Vans Indonesia mengajak konsumen untuk mengunjungi gerai mereka
di Skybridge Grand Indonesia lantai dua. Vans Indonesia mengungkapkan para
penggemarnya pasti sudah tak sabar menantikan berbagai koleksi terbarunya.
Mereka mengajak konsumen untuk memilih koleksi sepatu teranyar mereka.
BAB
IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Distributor
PT. Gagan Indonesia telah dinyatakan pailit alias
bangkrut oleh Pengadilan Niaga Jakarta Pusat setelah gagal berdamai dengan para
krediturnya dalam proses penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) . Maraknya
barang-barang tiruan atau kw yang menyerupai sepatu merek Vans
dengan harga yang lebih murah dari aslinya. Berkembangnya
shopping online di Indonesia berdampak pada hasil penjualan PT Gagan selaku
pihak distributor. Mekipun telah dikabarkan bangkrut vans kini hadir kembali di
Indonesia tentunya tidak lagi dinaungi oleh PT. Gagan. Hadirnya Vans di
Indonesia membawa kabar gembira bagi para pecinta sepatu tersebut. Dengan
dinaungi oleh distributor barunya PT. Navya Ritel Indonesia vans telah dibuka
di dua gerai saja yakni di Jakarta dan Surabaya.
B. SARAN
ð Sebaiknya Distributor PT. Gagan
melakukan proses promosi yang gencar mengenai kualitas produk , dan berusaha
meyakinin konsumen bahwa harga jual tinggi sesuai dengan kualitas dan brand
produk.
ð Untuk Distributor PT. Navya Retail
Indonesia tetap harus mempertimbangkan strategi pemasaran yang tepat untuk
menghadapi pesaing dan bila perlu lakukan potongan harga untuk menarik
perhatian konsumen.